Politik PHP: Dari Janji Manis ke Pengkhianatan Publik
Politik PHP: Dari Janji Manis ke Pengkhianatan Publik
Oleh: Elas Anra Dermawan
Advokat dan Pendiri Pusat Studi Politik dan Bantuan Hukum
Di tengah semangat demokrasi elektoral yang terus berkembang, kita dihadapkan pada satu ancaman yang kian membudaya dan membusuk dalam sistem politik kita: politik pemberi harapan palsu (PHP). Ini bukan sekadar soal janji-janji yang tidak ditepati, melainkan sudah menjadi pola pengkhianatan terhadap kepercayaan publik secara terstruktur.
Politik PHP adalah wujud dari manipulasi kesadaran rakyat. Janji pendidikan gratis, lapangan kerja massal, perbaikan infrastruktur, hingga kesejahteraan instan ditebar menjelang pemilu. Tapi setelah suara dikumpulkan dan kekuasaan digenggam, realitas justru menunjukkan kekosongan niat dan arah.
Dalam perspektif hukum dan etika, janji politik semestinya dimaknai sebagai komitmen moral dan sosial. Ketika janji itu diucapkan dengan sadar namun tanpa niat untuk direalisasikan, maka itu adalah bentuk penipuan politik. Bahkan dalam beberapa konteks, bisa dikaitkan dengan delik perbuatan melawan hukum atau pelanggaran etik jabatan jika janji tersebut memicu kerugian nyata bagi masyarakat.
Lebih parahnya, politik PHP tak hanya menghancurkan harapan rakyat, tapi juga menggerus kepercayaan publik terhadap demokrasi. Kita menyaksikan bagaimana masyarakat mulai apatis, enggan memilih, dan sinis terhadap semua aktor politik—karena terlalu sering dikhianati.
Kita butuh politik yang sehat. Politik yang dibangun atas dasar akal sehat, integritas, dan kesanggupan menepati janji. Demokrasi bukan sekadar pesta suara, tapi kontrak sosial antara rakyat dan pemimpin yang dipilihnya. Bila kontrak itu dilanggar, maka sejatinya yang rusak bukan hanya satu hubungan politik, tapi fondasi kepercayaan dalam negara hukum.

Komentar
Posting Komentar