Pribumi dan Ujian Kedewasaan Sosial: Berhenti Mengeluh, Mulai Menang

 


Pribumi dan Ujian Kedewasaan Sosial: Berhenti Mengeluh, Mulai Menang

Oleh: Elas Anra Dermawan, SH

Isu ketertinggalan pribumi kerap direspons dengan keluhan kolektif. Mengeluh atas ketimpangan ekonomi, ketidakadilan akses, hingga dominasi kelompok tertentu dalam sektor strategis. Keluhan itu tidak sepenuhnya keliru, sebab negara hukum memang mewajibkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun, persoalannya menjadi serius ketika keluhan berubah menjadi identitas, bukan pemicu pembenahan.

Dalam perspektif hukum dan politik, kedewasaan sosial suatu kelompok diuji bukan dari seberapa keras ia menyuarakan ketidakadilan, tetapi dari bagaimana ia mengubah keluhan menjadi kekuatan politik, ekonomi, dan hukum yang nyata. Negara tidak berjalan dengan simpati, melainkan dengan data, kapasitas, dan daya tawar.

UUD 1945 menegaskan prinsip persamaan di hadapan hukum dan keadilan sosial. Akan tetapi, konstitusi tidak pernah menjanjikan hasil tanpa kompetensi. Hak dijamin, peluang dibuka, tetapi keberhasilan tetap menuntut kesiapan. Ketika sebagian pribumi terjebak pada narasi “kita selalu dirugikan” tanpa strategi penguatan kapasitas, maka yang lahir bukan keadilan, melainkan stagnasi.

Secara politik, keluhan yang terus diulang tanpa agenda transformasi hanya akan melahirkan populisme emosional. Ia mudah dimanfaatkan oleh elite, tetapi miskin hasil bagi rakyat. Dalam kondisi ini, pribumi bukan lagi subjek perubahan, melainkan objek eksploitasi wacana. Kita marah, mereka berkuasa; kita mengeluh, mereka mengelola sistem.

Secara hukum, posisi tawar tidak dibangun dari rasa kasihan. Dunia hukum bekerja atas dasar bukti, kapasitas, dan konsistensi. Demikian pula dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Ketertinggalan tidak bisa dilawan dengan narasi penderitaan semata, melainkan dengan pembuktian konkret: pendidikan yang dikuasai, profesi yang dimenangkan, usaha yang bertahan, dan integritas yang diakui.

Kritik ini bukan pembenaran atas ketimpangan struktural. Negara tetap wajib dikritik ketika abai. Namun, kritik tanpa kesiapan internal hanya akan menjadikan kita lantang tetapi rapuh. Kedewasaan sosial menuntut keseimbangan: menuntut keadilan sambil membangun kekuatan.

Pribumi harus keluar dari jebakan psikologis sebagai korban permanen. Sejarah tidak ditulis oleh mereka yang paling keras mengeluh, tetapi oleh mereka yang menang dalam arena nyata. Arena itu bernama kompetensi, keberanian, dan konsistensi.

Saatnya mengubah energi mengeluh menjadi energi menguasai. Bukan berhenti bersuara, tetapi berbicara lewat bukti. Bukan menunggu pengakuan, tetapi memaksa sistem mengakui.

Di titik inilah ujian kedewasaan sosial pribumi sesungguhnya dimulai: berhenti mengeluh, dan mulai menang.


Komentar