Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

AYUNAN ISLAMIC CENTER

Gambar
Oleh: Elas Anra Dermawan, S.H. Founder Pusat Studi Politik dan Bantuan Hukum & Advokat Pendahuluan Fenomena “Ayunan Islamic Center Jambi” bukanlah sekadar gambaran visual karikatural yang beredar di ruang publik, melainkan cermin yang merefleksikan berbagai kontradiksi hukum, simbolisme kekuasaan, serta dinamika politik daerah yang tengah menggelora. Dalam narasi ini, saya mengulas dimensi hukum dan politik dari simbol “ayunan” tersebut sebagai metafora atas pola kekuasaan dan keberagamaan yang membingkai lanskap sosial Jambi hari ini. I. Perspektif Hukum: Ruang Publik dan Kepantasan Pejabat Islamic Center Jambi merupakan bangunan monumental keagamaan yang didirikan dengan dana publik dan ditujukan sebagai tempat ibadah, dakwah, dan kegiatan Islami. Maka dari itu, penggunaan kawasan ini, baik secara fisik maupun simbolik, wajib tunduk pada prinsip kepatutan, norma agama, dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jika dalam narasi visual “Ayunan Islamic Center Jambi” tergambar sim...

“Netralitas Aparat Negara Dipertaruhkan: Kritik terhadap Terpilihnya Anggota Kepolisian Aktif sebagai Ketua KONI Provinsi Jambi”

Gambar
  Narasi Hukum dan Politik “Netralitas Aparat Negara Dipertaruhkan: Kritik terhadap Terpilihnya Anggota Kepolisian Aktif sebagai Ketua KONI Provinsi Jambi” Oleh: Elas Anra Dermawan, S.H. Advokat & Founder Studi Politik dan Bantuan Hukum I. PENDAHULUAN Dalam iklim demokrasi yang sehat, salah satu prinsip dasar yang harus dijaga secara ketat adalah netralitas aparatur negara, khususnya anggota TNI dan Polri. Ketika seorang anggota aktif kepolisian terpilih menjadi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jambi, maka hal ini bukan hanya menimbulkan pertanyaan yuridis, tapi juga kritik politik yang tajam: Apakah langkah ini sah secara hukum? Dan benarkah netralitas institusi kepolisian tetap terjaga? Sebagai advokat dan pengamat politik hukum, saya merasa perlu untuk menyampaikan kritik terhadap hal ini, karena peristiwa ini menyangkut integritas hukum publik, profesionalitas institusi kepolisian, dan kualitas demokrasi daerah. II. DASAR HUKUM DAN PERTENTANGANNYA Pa...

Oligarki dalam Meja Hijau: Antara Penegakan Hukum dan Perang Politik dalam Kasus Tom Lembong

Gambar
  Oligarki dalam Meja Hijau: Antara Penegakan Hukum dan Perang Politik dalam Kasus Tom Lembong Oleh: Elas Anra Dermawan, S.H. Founder Studi Politik & Bantuan Hukum & Advokat I. PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara hukum selalu mengklaim menjunjung tinggi keadilan, namun realitas yang muncul di balik meja hijau kerap menunjukkan bahwa hukum tidak steril dari tarik-menarik kepentingan oligarki dan politik kekuasaan. Kasus hukum yang menjerat Thomas Trikasih Lembong (Tom Lembong), mantan Menteri dan tokoh ekonomi nasional, kembali memantik kegelisahan publik terhadap kejujuran sistem peradilan dan independensinya dalam menghadapi perkara yang menyentuh elite. Apakah ini bentuk penegakan hukum yang sejati atau bagian dari skenario besar dalam perang politik? Di sinilah saya, sebagai advokat dan pengkaji politik hukum, mencoba menelaah dengan perspektif objektif namun kritis. II. KONTEKS KASUS DAN POSISI POLITIK TOM LEMBONG Tom Lembong bukan figur biasa. Ia adalah mantan Kepala ...

“ISLAMIC CENTER JAMBI: PROYEK GAGAH, TAPI GOYAH?”

Gambar
  OPINI HUKUM DAN POLITIK “ISLAMIC CENTER JAMBI: PROYEK GAGAH, TAPI GOYAH?” Oleh: Elas Anra Dermawan, S.H. Founder Pusat Studi Politik & Bantuan Hukum Pendahuluan: Antara Simbol Agama dan Sandi Politik Anggaran Pembangunan Islamic Center Provinsi Jambi sejatinya lahir dari gagasan luhur: menciptakan pusat peradaban Islam yang monumental di bumi Melayu. Namun idealisme ini kemudian direduksi oleh praktik birokrasi yang manipulatif, keliru dalam perencanaan, cacat dalam pelaksanaan, dan berpotensi menimbulkan kerugian negara. Yang lebih miris: proyek suci ini justru berbau konflik kepentingan dan manuver politik anggaran, menjadikan Islamic Center sebagai simbol religius yang dieksploitasi untuk kepentingan elektoral. 1. Proyek Multiyears atau Multiakal? Skema multiyears contract yang digadang-gadang efisien, justru menjadi jalan sunyi menuju jebakan hukum. Dalam fakta-fakta publik dan RDP DPRD, kita menyaksikan kegagalan mendasar dalam proses planning: •Estimasi biaya berubah dr...