“KPK Jangan Tajam ke Riau, Tapi Tumpul ke Jambi: Saatnya OTT Kepala Daerah Jambi!”


“KPK Jangan Tajam ke Riau, Tapi Tumpul ke Jambi: Saatnya OTT Kepala Daerah Jambi!”

Oleh: Elas Anra Dermawan, S.H.
(Founder Pusat Studi Politik dan Bantuan Hukum & Advokat)

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menunjukkan taringnya dengan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Gubernur Riau. Publik tentu mengapresiasi langkah itu sebagai bukti bahwa lembaga antirasuah masih hidup. Namun, muncul pertanyaan besar: kenapa hanya Riau yang disentuh, sementara Jambi seakan dibiarkan?

Provinsi Jambi bukan daerah yang steril dari aroma busuk korupsi. Banyak proyek strategis daerah, baik dari DAK Fisik Pendidikan, infrastruktur, maupun dana hibah, diduga kuat sarat permainan antara oknum pejabat dan pihak swasta. Bahkan, beberapa nama besar di lingkaran kekuasaan daerah sudah lama jadi “bisik-bisik hukum” di kalangan penegak keadilan. Tetapi sampai hari ini, KPK belum sekalipun melakukan OTT di Jambi, seolah wilayah ini kebal dari operasi hukum.

Sebagai Founder Pusat Studi Politik dan Bantuan Hukum, saya melihat ada gejala "politik selektif penindakan" di tubuh KPK. Ketika di satu provinsi aparat bergerak cepat, di daerah lain justru lamban, padahal indikator penyimpangan sama — bahkan kadang lebih parah. Keadilan tidak boleh berwajah geografis. Jika di Riau bisa OTT, mengapa di Jambi tidak?

Lebih dari sekadar hukum, ini soal keadilan politik dan moral publik. Masyarakat Jambi sudah lelah dengan citra pejabat yang gemar menumpuk kekayaan dari proyek, sementara rakyat terus bergulat dengan harga bahan pokok dan jalan rusak. Jika KPK diam, itu sama saja membiarkan korupsi tumbuh subur di tanah yang subur.

Sudah saatnya KPK turun ke Jambi. Tidak hanya memantau, tapi bertindak nyata. OTT bukan ancaman, melainkan jalan pembuktian bahwa negara masih punya nyali melawan korupsi di mana pun ia berakar.

Karena hukum yang tajam ke luar, tapi tumpul ke dalam, bukan hukum — itu alat politik.
Dan rakyat Jambi sudah cukup lama melihat permainan itu.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Ketika Kesetiaan Dikhianati, Negara Tak Boleh Ikut Diam: Menyoal Kasus ‘Mokondo’ yang Menimpa Audila Putry Sahara”

Pulau Kami, Harga Diri Kami: Ketika Jambi Diam, Aceh Berjuang