Primodialisme Muaro Jambi Tergerus Oleh Zaman
Oleh : Elas Annra Dermawan, SH ( Advokat dan Pendiri Pusat Studi Politik dan Bantuan Hukum
Primordialisme di Kabupaten Muaro Jambi, seperti di banyak daerah lainnya di Indonesia, memang semakin tergerus oleh perubahan zaman. Fenomena primordialisme yang berakar pada identitas suku, agama, dan kelompok-kelompok etnis tertentu, yang dulu sering menjadi faktor dominan dalam politik lokal, kini mulai mengalami kemunduran. Beberapa faktor yang turut mempengaruhi hal ini antara lain:
1. Pendidikan dan Peningkatan Kesadaran Masyarakat
Peningkatan tingkat pendidikan di Kabupaten Muaro Jambi turut mengubah pola pikir masyarakat. Dengan pendidikan yang lebih baik, masyarakat cenderung lebih kritis dalam menilai calon pemimpin berdasarkan kapasitas dan program yang mereka tawarkan, bukan sekadar berdasarkan identitas primordial. Masyarakat yang semakin terdidik lebih melihat visi-misi pemimpin daripada latar belakang suku atau agama.
2. Globalisasi dan Akses Informasi
Globalisasi yang membawa akses informasi yang lebih luas juga memainkan peran penting dalam mengurangi pengaruh primordialisme. Dengan adanya internet, media sosial, dan akses ke berita yang lebih cepat dan beragam, masyarakat tidak lagi terbatas pada informasi lokal yang mungkin mempromosikan politik identitas. Mereka semakin bisa melihat perspektif yang lebih luas, dan ini turut memperkuat kesadaran politik yang lebih rasional.
3. Kinerja dan Isu Pembangunan yang Dominan
Dalam beberapa tahun terakhir, politik daerah di Muaro Jambi mulai lebih fokus pada isu-isu pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Pemilih cenderung lebih mengutamakan calon yang dapat menawarkan solusi konkret untuk masalah-masalah daerah, seperti infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, daripada melihat latar belakang etnis atau agama calon. Program-program pembangunan yang jelas dan berdampak langsung pada masyarakat menjadi faktor utama dalam pemilihan pemimpin.
4. Perubahan Demografi dan Sosial
Perubahan demografi di Kabupaten Muaro Jambi juga berkontribusi pada pergeseran ini. Urbanisasi yang semakin meningkat dan adanya migrasi penduduk dari daerah lain ke Muaro Jambi menciptakan keragaman sosial yang lebih besar. Keberagaman ini sering kali mempertemukan berbagai kelompok etnis dan agama, yang memaksa masyarakat untuk lebih mengedepankan toleransi dan kerjasama, daripada memusatkan perhatian pada perbedaan primordial.
5. Kekuatan Media Sosial
Media sosial, terutama platform seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp, telah membuka ruang diskusi yang lebih inklusif dan berbasis pada isu-isu aktual, bukan semata-mata politik identitas. Diskusi politik yang lebih terbuka memungkinkan masyarakat untuk saling bertukar pandangan dan informasi, sehingga memperkecil ruang bagi politik primordial yang hanya mengedepankan suku atau agama.
6. Pergeseran Politik Partai
Partai politik di Kabupaten Muaro Jambi juga semakin fokus pada elektabilitas dan keberhasilan program kerja, bukan hanya pada representasi identitas suku atau agama. Sebagian besar partai politik mulai mengutamakan calon yang dapat menarik suara dari berbagai kelompok masyarakat tanpa memandang latar belakang primordial. Ini juga menciptakan iklim politik yang lebih inklusif dan demokratis.
Tantangan yang Masih Ada
Meski primordialisme mulai tergerus, tantangan untuk sepenuhnya menghilangkannya tetap ada. Dalam situasi tertentu, seperti saat ada ketegangan sosial atau pemilu yang sangat kompetitif, politik identitas bisa saja muncul kembali. Oleh karena itu, meskipun ada pergeseran yang signifikan, perubahan budaya politik ini perlu didukung oleh kebijakan yang mendorong inklusivitas, toleransi, dan pembangunan yang berkeadilan di semua lapisan masyarakat.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, primordialisme di Kabupaten Muaro Jambi memang mengalami penggerusan seiring dengan perubahan zaman. Peningkatan kesadaran politik, akses informasi yang lebih luas, serta fokus pada pembangunan dan kesejahteraan menjadi faktor utama yang menggeser politik identitas. Namun, proses ini tidak sepenuhnya tanpa tantangan, dan diperlukan upaya terus-menerus untuk memastikan politik yang lebih rasional dan inklusif dapat terus berkembang di masa depan.

Komentar
Posting Komentar