Banjir di Kota Jambi: Dampak Kebijakan Pemimpin Terdahulu

Banjir di Kota Jambi: Dampak Kebijakan Pemimpin Terdahulu

Kota Jambi menghadapi tantangan banjir yang semakin serius, yang tidak hanya disebabkan oleh faktor alam seperti curah hujan tinggi, tetapi juga dipengaruhi oleh kebijakan tata ruang dan lingkungan dari pemerintahan sebelumnya. Perkumpulan Hijau Jambi mencatat bahwa hingga Februari 2025, terdapat 19 titik banjir di kota ini, dengan beberapa wilayah mengalami genangan parah. Mereka menyoroti bahwa kebijakan tata ruang yang kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan dan pemberian izin pembangunan di area resapan air telah memperburuk kondisi ini.

Kritik terhadap kepemimpinan sebelumnya juga muncul terkait ketimpangan pembangunan antar daerah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi tahun 2023 menunjukkan kesenjangan ekonomi yang signifikan antara kabupaten/kota di Jambi. Program Dumisake (Dua Miliar Satu Kecamatan) yang diharapkan dapat mengatasi masalah ini ternyata belum memberikan hasil optimal, dengan realisasi anggaran hanya sekitar 45% hingga akhir 2023.

Selain itu, krisis lingkungan seperti kebakaran hutan dan lahan gambut yang rutin terjadi semakin memperparah kondisi ekosistem. Deforestasi dan eksploitasi lahan yang masif melalui pemberian izin konsesi menyebabkan ekosistem gambut menjadi rapuh dan rentan terhadap kebakaran.

Pemerintah Kota Jambi saat ini berupaya menangani dampak banjir dengan mendirikan dapur umum di wilayah terdampak dan berkoordinasi dengan PLN untuk menghindari risiko arus pendek listrik. Namun, langkah-langkah ini lebih bersifat responsif dan belum menyentuh akar permasalahan terkait kebijakan tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Untuk mengatasi permasalahan banjir secara efektif, diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan tata ruang, penegakan aturan terkait wilayah resapan air, serta pembangunan infrastruktur yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Tanpa perubahan kebijakan yang signifikan, risiko banjir di Kota Jambi akan terus meningkat, mengancam kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di masa mendatang.




 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“KPK Jangan Tajam ke Riau, Tapi Tumpul ke Jambi: Saatnya OTT Kepala Daerah Jambi!”

“Ketika Kesetiaan Dikhianati, Negara Tak Boleh Ikut Diam: Menyoal Kasus ‘Mokondo’ yang Menimpa Audila Putry Sahara”

Pulau Kami, Harga Diri Kami: Ketika Jambi Diam, Aceh Berjuang