“Apo Selero Kau”: Simbol Arogansi Kekuasaan dan Krisis Etika Ketua DPRD Jambi
Opini Hukum dan Sosial
Oleh : Elas Anra Dermawan, S.H.
Advokat & Pendiri Pusat Studi Politik dan Bantuan HukumOpini Hukum dan Sosial
“Apo Selero Kau”: Simbol Arogansi Kekuasaan dan Krisis Etika Ketua DPRD Jambi
Pernyataan “Apo selero kau” yang dilontarkan oleh Ketua DPRD Provinsi Jambi saat menanggapi aksi demonstrasi mahasiswa bukan hanya mencederai semangat demokrasi, tetapi juga mencerminkan krisis etika dalam kepemimpinan politik lokal. Dalam konteks hukum dan sosial, ungkapan tersebut patut dikritisi karena memuat unsur arogansi kekuasaan dan ketidakdewasaan dalam menyikapi aspirasi publik.
Sebagai pejabat publik yang menduduki jabatan strategis, Ketua DPRD seharusnya menjadi contoh dalam merawat komunikasi politik yang santun, terbuka, dan solutif. Aksi mahasiswa adalah bagian dari ruang demokrasi yang dijamin oleh konstitusi. Mahasiswa hadir bukan untuk mencari musuh, tetapi menyampaikan kritik dan harapan. Lalu, jika kritik dibalas dengan cemoohan atau pernyataan sarkastik, di manakah letak kedewasaan berpolitik?
Dari perspektif etika kelembagaan, ucapan tersebut jelas bertentangan dengan prinsip dasar dalam kode etik DPRD, yang menuntut setiap anggota, apalagi pimpinan, untuk menjaga integritas, kesantunan, dan sikap menghormati masyarakat. Bentuk komunikasi yang merendahkan dan cenderung melecehkan seperti itu bukan hanya mempermalukan lembaga DPRD, tetapi juga mengancam legitimasi moral seorang wakil rakyat di mata publik.
Secara sosiologis, peristiwa ini memperlihatkan bahwa sebagian elit daerah belum mampu keluar dari mentalitas kekuasaan yang menempatkan rakyat hanya sebagai objek. Ketika kritik dibalas dengan amarah, maka itu bukan lagi bentuk kepemimpinan, melainkan cerminan ketidakmampuan untuk berdialog dan bernegara secara sehat.
Ketua DPRD semestinya menyadari bahwa jabatan bukanlah alat untuk menunjuk-nunjuk atau meremehkan rakyat, melainkan amanah untuk mendengar, menyerap, dan memperjuangkan aspirasi mereka. Dalam hal ini, Ketua DPRD Jambi justru telah mempertontonkan sikap yang bertolak belakang dengan semangat reformasi dan cita-cita demokrasi.
Maka, sebagai bagian dari kontrol sosial dan moral, saya menilai penting bagi lembaga DPRD melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan seperti ini. Apakah ucapan tersebut layak dibiarkan begitu saja? Ataukah perlu ada mekanisme etik yang tegas agar tidak menjadi preseden buruk ke depan?
Demokrasi hanya akan sehat jika para pengembannya mampu bersikap dewasa, adil, dan terbuka terhadap kritik. Jika seorang Ketua DPRD saja tak mampu menahan diri menghadapi unjuk rasa damai, maka yang sedang kita hadapi bukan hanya krisis komunikasi, tetapi juga krisis kepemimpinan.

Komentar
Posting Komentar