Opini Hukum dan Sosial: Aktivis yang Lebih Suka Berfoto dengan Pemerintah Ketimbang Melebur dengan Advokasi Masyarakat

 

Opini Hukum dan Sosial: Aktivis yang Lebih Suka Berfoto dengan Pemerintah Ketimbang Melebur dengan Advokasi Masyarakat

Oleh : Elas Annra Dermawan, SH ( Advokat dan Pendiri Pusat Studi Politik dan Bantuan Hukum )

Dalam konteks demokrasi dan negara hukum, aktivisme sejatinya lahir dari keresahan masyarakat terhadap ketimpangan, ketidakadilan, dan kebijakan negara yang dianggap merugikan rakyat. Aktivis hadir sebagai corong suara publik yang kerap kali tak terdengar. Namun dalam perjalanannya, tidak sedikit aktivis yang kemudian lebih sering tampak berfoto bersama pejabat, hadir di acara-acara seremonial, dan tampil akrab dengan kekuasaan—alih-alih berdiri bersama masyarakat dalam advokasi yang nyata.

Dari sisi hukum, aktivis memiliki peran non-struktural dalam mengawasi jalannya pemerintahan. Mereka bukan bagian dari institusi negara, sehingga keberpihakan mereka idealnya berada pada masyarakat sipil (civil society). Ketika aktivis justru lebih dekat pada simbol-simbol kekuasaan, muncul pertanyaan kritis: apakah masih bisa disebut sebagai “watchdog” bila justru duduk berdampingan dengan yang seharusnya diawasi?

Secara sosiologis, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran fungsi sosial dari aktivisme: dari alat perlawanan menjadi alat legitimasi. Di mata masyarakat, aktivis seperti ini rentan dianggap sebagai bagian dari elite baru, yang menjadikan akses terhadap kekuasaan sebagai tujuan, bukan alat perjuangan. Hal ini menciptakan jarak antara aktivis dan komunitas akar rumput yang dulu mereka bela. Alih-alih menjadi representasi suara rakyat, mereka malah tampak lebih sibuk menjaga citra dalam lingkaran kekuasaan.

Fenomena ini juga memperlihatkan gejala co-optation, yakni ketika individu atau kelompok yang sebelumnya bersifat kritis terhadap negara mulai diserap dan dilunakkan oleh sistem, sehingga kehilangan daya kritisnya. Ini bisa jadi bagian dari strategi negara dalam “menjinakkan” gerakan sosial.

Namun tentu, tidak semua relasi aktivis-pemerintah bersifat negatif. Dalam beberapa kasus, kedekatan ini dapat digunakan sebagai strategi pengaruh dari dalam, selama tetap menjaga integritas dan keberpihakan terhadap rakyat. Tapi pertanyaannya adalah: apakah mereka masih mendengar suara rakyat, atau hanya sibuk membangun citra personal?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“KPK Jangan Tajam ke Riau, Tapi Tumpul ke Jambi: Saatnya OTT Kepala Daerah Jambi!”

“Ketika Kesetiaan Dikhianati, Negara Tak Boleh Ikut Diam: Menyoal Kasus ‘Mokondo’ yang Menimpa Audila Putry Sahara”

Pulau Kami, Harga Diri Kami: Ketika Jambi Diam, Aceh Berjuang