Saya Punya Persepsi, Kenapa Kepala Daerah Kita Tidak Seperti Kang Dedi Mulyadi. Apa Jangan-jangan Karena SDM-nya Gak Sama?
Oleh : Elas Annra Dermawan, SH ( Advokat dan Pendiri Pusat Studi Politik dan Bantuan Hukum )
Opini: Saya Punya Persepsi, Kenapa Kepala Daerah Kita Tidak Seperti Kang Dedi Mulyadi. Apa Jangan-jangan Karena SDM-nya Gak Sama?
Saya punya persepsi pribadi yang mungkin juga dirasakan oleh sebagian masyarakat lainnya. Setiap kali melihat sosok seperti Kang Dedi Mulyadi, saya sering bertanya-tanya, kenapa kepala daerah kita tidak seperti beliau? Apakah karena Sumber Daya Manusianya (SDM) berbeda? Atau ada faktor lain yang membuat kualitas kepemimpinan begitu jauh berbeda?
Kang Dedi dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, sederhana, tegas, namun tetap humanis. Ia punya visi yang kuat dan mampu memadukan budaya lokal dengan pembangunan modern. Gaya kepemimpinannya membumi, menyentuh langsung persoalan masyarakat, tanpa banyak basa-basi.
Sayangnya, tidak semua kepala daerah memiliki pendekatan yang sama. Banyak yang lebih sibuk dengan pencitraan, urusan politik, atau bahkan terjebak dalam birokrasi yang kaku. Ini menimbulkan kesan bahwa sebagian dari mereka tidak benar-benar paham atau peduli pada kebutuhan rakyat.
Saya tidak menutup kemungkinan bahwa SDM memang menjadi salah satu faktor utama. Seorang pemimpin yang baik tidak hanya butuh gelar, tapi juga jiwa kepemimpinan, empati, keberanian mengambil risiko, dan kedekatan dengan budaya serta masyarakatnya. Sayangnya, tidak semua kepala daerah memiliki kualitas itu. Mungkin mereka tumbuh dari sistem yang tidak membentuk karakter pemimpin sejati.
Jadi, apakah semua ini karena SDM-nya memang tidak sama? Mungkin iya. Tapi bisa juga karena sistem politik kita belum mendukung tumbuhnya pemimpin-pemimpin yang seperti Kang Dedi—yang lahir dari proses panjang, pembelajaran dari bawah, dan niat tulus untuk mengabdi.
Harapan saya, ke depan semakin banyak kepala daerah yang bukan hanya pintar, tapi juga bijak, peduli, dan berani. Karena rakyat butuh lebih dari sekadar pemimpin administratif—rakyat butuh sosok yang hadir, menginspirasi, dan memberi solusi nyata.

Komentar
Posting Komentar