"Sumpah Pemuda di Tangan Gubernur Jambi: Nilai Luhur yang Dikhianati Kekuasaan"

 


"Sumpah Pemuda di Tangan Gubernur Jambi: Nilai Luhur yang Dikhianati Kekuasaan"

Oleh: Adv. Elas Anra Dermawan, SH
Founder Pusat Studi Politik dan Bantuan Hukum

Sumpah Pemuda adalah simbol kebangkitan kesadaran nasional, lahir dari hati yang tulus, bukan dari kalkulasi politik. Namun di Jambi hari ini, semangat itu seolah dikubur oleh kepemimpinan daerah yang lebih sibuk menata citra daripada menata nurani. Gubernur Jambi berdiri di panggung seremonial Sumpah Pemuda, berbicara tentang persatuan dan semangat pemuda, sementara di balik layar, realitas politiknya menunjukkan wajah yang sebaliknya — penuh kepentingan, penuh kepalsuan.

Di bawah kepemimpinan sekarang, rakyat menyaksikan bagaimana kekuasaan diperlakukan layaknya alat transaksi. Jabatan menjadi komoditas, loyalitas dihargai lebih tinggi daripada kompetensi, dan hukum sering kali tunduk pada kalkulasi politik. Padahal, sumpah jabatan gubernur sejatinya adalah kontrak moral dengan rakyat, bukan sekadar formalitas di depan kitab suci.

Sumpah Pemuda mengajarkan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa,” tapi politik Jambi hari ini justru menampilkan wajah “satu kelompok, satu geng, satu proyek.” Para pemuda idealis yang seharusnya menjadi penerus bangsa malah tersingkir oleh budaya nepotisme dan patronase politik. Pemerintah daerah tidak lagi menjadi ruang pengabdian, melainkan ruang dagang kepentingan.

Secara politik dan hukum, keadaan ini mencerminkan kemunduran yang serius. Prinsip keadilan dan transparansi publik semakin kabur. Pemerintah daerah sering berdalih pembangunan berjalan baik, padahal di baliknya rakyat melihat kontradiksi antara janji dan bukti. Publik mencium aroma penyalahgunaan kekuasaan, dari penunjukan proyek, pengelolaan anggaran, hingga kebijakan yang kerap tidak berpihak pada masyarakat bawah.

Krisis ini bukan hanya soal individu, tapi soal nilai. Ketika nilai perjuangan Sumpah Pemuda kehilangan makna di tangan pemimpin daerah, maka yang lahir adalah generasi pemuda yang skeptis terhadap politik, apatis terhadap hukum, dan lelah terhadap kemunafikan elit.

Sebagai advokat dan pemerhati hukum politik, saya menilai kepemimpinan seperti ini adalah bentuk pengkhianatan moral terhadap amanat reformasi dan konstitusi. Hukum tidak boleh tunduk pada kekuasaan, dan kekuasaan tidak boleh menjual hukum demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Sumpah Pemuda yang dahulu menjadi api perjuangan kini berubah menjadi abu di tangan pemimpin yang gagal memahami maknanya. Dan ketika pemimpin gagal memaknai sumpahnya sendiri, maka rakyat berhak untuk mengingatkan — dengan suara, pena, dan keberanian.

Penutup

Peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar ritual tahunan. Ia seharusnya menjadi cermin bagi Gubernur Jambi — apakah masih memegang teguh nilai persatuan dan kejujuran, atau hanya menjadikannya slogan politik untuk menutupi kebobrokan kekuasaan.
Sejarah tidak mencatat siapa yang berbicara paling lantang, tapi siapa yang berani jujur dan berpihak kepada rakyat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“KPK Jangan Tajam ke Riau, Tapi Tumpul ke Jambi: Saatnya OTT Kepala Daerah Jambi!”

“Ketika Kesetiaan Dikhianati, Negara Tak Boleh Ikut Diam: Menyoal Kasus ‘Mokondo’ yang Menimpa Audila Putry Sahara”

Pulau Kami, Harga Diri Kami: Ketika Jambi Diam, Aceh Berjuang